Dampak Tidur Setelah Subuh Dan Ashar

dampak tidur setelah subuh dan ashar – Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Tidur berjalan secara alami dan mempunyai manfaat fisologis dan psikologis untuk kebugaran tubuh. Jika seseorang tidak beroleh tidur yang baik, maka ia bakal mengalami problem manfaat organ-organ tubuh, terhitung otak. Makanya di dalam Islam tersedia adab tidur.

Orang yang malamnya kurang tidur akibat begadang sampai larut malam, maka dapat dipastikan paginya ia tidak tampak segar. Untuk beraktivitas mulai malas dan untuk berpikir terhitung lemah. Apalagi untuk mengendarai mobil di dalam suasana kurang tidur atau mengantuk, dapat membahayakan perjalanan.

Dampak Tidur Setelah Subuh Dan Ashar

Tidur terhitung dikatakan karunia Allah, karena di dalam tidur manusia dapat beristirahat bersama sempurna, lebih-lebih bias bermimpi apa saja layaknya layaknya nonton film atau sebagai pemainnya. Kadang mimpi baik, kadang mimpi buruk. Kadang apa yang tersedia di mimpi, tersedia di dalam kenyataan. Mimpi itu katanya terhitung obsesi yang terpendam.dampak tidur setelah subuh dan ashar

Adapun perihal tidur pada malam hari, disebutkan di di dalam Al-Quran:

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar anda beristirahat pada malam itu dan agar anda melacak sebahagian berasal dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar anda bersyukur kepada-Nya.” (QS Al-Qashash [28]: 73).

Pada ayat lain disebutkan:

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا

Artinya: “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat”. (QS An-Naba [78]: 9).

Adab Tidur Bernilai Ibadah

Perkara yang wajib menjadi catatan adalah bagaimana agar tidur itu bukan saja menyehatkan, tapi bernilai ibadah di hadapan Allah.

Untuk itu, tersedia adab-adab (etika, tatacara, sopan santun) tentang tidur berdasarkan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Di antaranya adalah sbb.:

1.  Niatkan tidur bersama Bismillah, untuk bangun shalat Tahajud.

Insya-Allah nanti waktunya Shalat Tahajud Allah bakal membangunkan. Tinggal setelah terbangun segera dilanjutkan wudhu dan shalat tahajud. Jangan dilambat-lambatkan, nanti dapat tidur lagi, kelanjutannya tahajud melalui lagi. Kecuali udah niat tahajud, barangkali kecapean, terbangun sangat agak telat sampai adzan Subuh berkumandang, maka udah tercatat baginya pahala shalat Tahajud. Selagi Tahajud itu udah menjadi kebiasaannya.

Ini layaknya disebutkan di di dalam Hadits Riwayat An-Nasa’i:

مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ، وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُوْمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ، فَغَلَبَهُ النَّوْمُ حَتَّى يُصْبِحَ، كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى، وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Artinya: “Barangsiapa yang naik ke atas ranjangnya (untuk tidur), sedang ia udah punya niat untuk bangun melakukan shalat di malam hari (tahajud). Namun ia tertidur sampai saat Shubuh, maka ditulis baginya pahala apa yang ia niatkan dan tidurnya itu adalah sedekah berasal dari Tuhannya.”

2. Segera tidur selepas shalat Isya

Kecuali kecuali tersedia kesibukan yang bernilai ibadah, seperti: berdzikir, baca Quran, berdiskusi, dakwah, silaturahim, dsb. Tinggalkan begadang malam bersama obrolan yang tidak bermanfaat, main game, kartu, nonton televisi, musik, dsb.

Di di dalam hadits disebutkan, yang artinya: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membenci tidur sebelum akan shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya (Isya).” (HR Bukhari).

Ibnu Baththol menjelaskan, Nabi tidak puas pada orang-orang yang begadang setelah shalat ‘Isya tanpa nilai ibadah, karena agar dapat melakukan shalat malam (Tahajud) dan shalat shubuh berjama’ah.

Bahkan Khalifah ‘Umar bin Khattab memperingatkan orang yang begadang setelah shalat Isya, bersama mengatakan, “apakah kalian saat ini begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”

3. Hendaknya tidur di dalam suasana berwudhu.

Ini sesuai panduan Rasul:

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ.

Artinya: “Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu’ lebih-lebih dahulu sebagaimana wudhu’mu untuk melakukan shalat.” (HR Bukhari dan Muslim).

4. Berbaring hendaknya mendahulukan posisi menghadap ke sebelah kanan .

Yaitu rusuk kanan sebagai tumpuan dan berbantal bersama tangan kanan atau berbantal selainnya.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

اِضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ اْلأَيْمَنِ.

Artinya: “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR Bukhari dan Muslim ).

5. Tidak tidur telungkup (tengkurep)

إِنَّهَا ضَجْعَةٌ يَبْغَضُهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ.

Artinya: “Sesungguhnya (posisi tidur tengkurap) itu adalah posisi tidur yang dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla.” (HR Abu Dawud).

6. Boleh tidur telentang

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah tidur telentang di masjid bersama menempatkan satu kaki di atas kaki lainnya. Tentu tidur di dalam suasana terlentang bersama memelihara aurat tidak terbuka.

7. Membaca ayat-ayat suci Al-Qur-an

Antara lain 10 Ayat Al-Baqarah : empat ayat Surat Al-Baqarah (ayat 1-4), ayat kursi (Al-Baqarah 255) plus dua ayat sesudahnya (ayat 256-257), dan tiga akhir Al-Baqarah (ayat 284-286). Ayat-ayat selanjutnya untuk mengusir syaitan yang tinggal di di dalam rumah.

8. Mandi Ayat.

Maksudnya, membaca tiga Qul (Qul Huwallaahu Ahad, Qul a’uudzu bi Rabbil falaq dan Qul a’uudzu bi Rabbin naas). Setelah membaca tiga surat selanjutnya tiupkan ke ke-2 tangan, lalu poleskan ke semua tubuh, dimulai berasal dari muka terus ke badan sampai ke kaki/yang terjangkau, tiga kali. (HR Bukhari dan Muslim).

9. Membaca Dzikir Fathimah

Oleh karena awalnya diajarkan Nabi kepada puterinya, Fathimah. Yaitu layaknya dzikir setelah shalat, yaitu: membaca Tasbih (Subhaanallaah) 33x, Tahmid (Alhamdulillah) 33x, Takbir (Allahu Akbar) 33x, plus Tahlil (Laa Ilaaha illallah) 1x, jumlah 100.

10. Membersihkan tempat tidur

Khawatir tersedia makhluk di situ layaknya semut, debu, atau lainnya.

11. Melakukan Muhasabah Diri

Yakni  bersama bertaubat, beristighfar, memaafkan saudaranya, evaluasi amalan seharian, menyampaikan wasiat kecuali diperlukan, dsb). Sehingga bersih tempat tidur, bersih pula hati.

12. Membaca doa hendak tidur

Antara lain doanya:

باسمِكَ اللَّهُمَ أَحْيا وأمُوتُ

Artinya: “Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan aku mati.” (HR Bukhari).

13. Bangun tidur membaca doa

Di antaranya bersama doa:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang udah membangunkan kami setelah menidurkan kami dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan.” (HR Bukhari).

Dzikir yang diucapkan dikala pagi hari ini, yakni doa bangun tidur, boleh bersama mengangkat tangan menghadap kiblat, menjadi pembuka amalan sepanjang hari itu. Ini terhitung perlihatkan bahwa berasal dari pagi hari kami udah mengawali bersama berdzikir kepada Allah, sebagaimana pula saat hendak tidur ditutup pula bersama amalan dzikir kepada Allah.

14. Jika mimpi baik, itu bagian berasal dari kenabian

Mimpi baik boleh diceritakan kepada orang lain esok harinya. Nabi menyebutkan, “Mimpi seorang mukmin merupakan satu bagian berasal dari 46 bagian kenabian.”

Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan, adalah apa yang diimpikan seorang mukmin itu dapat berjalan bersama benar, karena mimpi selanjutnya merupakan permisalan yang dibuat bagi orang yang bermimpi. Dari sisi ini mimpi dimisalkan layaknya kenabian di dalam kebenaran apa yang ditunjukkannya. Walaupun mimpi berlainan bersama kenabian.

Karena itulah mimpi dikatakan satu berasal dari 46 bagian kenabian. Adapun angka 46 bagian terhitung perkara tauqifiyyah, tidak tersedia yang mengerti hikmahnya sebagaimana halnya bilangan-bilangan rakaat di dalam shalat-shalat.

15. Mimpi buruk jangan diceritakan

Jika bermimpi buruk janganlah diceritakan ke orang lain, karena itu berasal dari syaitan. Berlindunglah berasal dari godaan syaitan.

Syaitan hendak membuat sedih kaum mukminin, sebagaimana firman Allah, yang artinya: “Sesungguhnya obrolan rahasia itu berasal dari setan, bersama tujuan agar orang-orang beriman itu bersedih hati, padahal obrolan itu tidaklah berikan mudarat sedikitpun kepada mereka kecuali bersama izin Allah ….” (QS Al-Mujadalah: 10).

Maka, kecuali bermimpi buruk dan terbangun, berlindunglah kepada Allah berasal dari keburukan mimpi, bersama membaca Ta’awudz. Kemudian berilah isyarat meludah sedikit ke arah kiri sebanyak tiga kali, lalu membuat perubahan posisi tidurnya. Baik pula bangun untuk berwudhu dan membaca ayat-ayat dan dzikir layaknya hendak tidur semula.

16. Usahakan tidak tidur pada waktu-waktu yang tidak dianjurkan

Seperti setelah shalat Subuh (Haylulah), setelah shalat Ashar (Aylulah) dan setelah shalat Maghrib.

Tidur setelah shalat Subuh (Haylulah) diambil berasal dari kata hala-yahulu-haulan yang bermakna menahan atau menghalangi. Kebiasaan tidur setelah shalat Subuh bakal menghambat singgah rejeki kepada seseorang. Ini saat tidak yang sangat tidak dianjurkan.

Kecuali barangkali orang-orang yang pada malam harinya mendapat tugas ronda (jaga malam), atau membantu orang lain sampai menjelang pagi (seperti dikala tersedia musibah, bencana), jihad di jalur Allah yang memaksanya sampai menjelang pagi,m atau penyakit khusus yang memaksanya tidur pagi.

Tentu ini bukan menjadi kebiasaan, hanya di dalam suasana tertentu. Juga sebaiknya menunggu sedikit waktu, untuk diisi pernah bersama dzikir-dzikir dan doa.

Maka Ulama fiqih menghukumi tidur setelah shalat Shubuh sebagai makruh karena pada saat itu rezki bakal dibagikan agar tidak baik tidur pada saat tersebut.

Ibnu Abbas setelah melihat anaknya di dalam suasana tidur setelah shalat Shubuh, dia bicara kepada anaknya, “Bangunlah, apakah anda hendak tidur di saat rezki dibagikan?”

Kebiasaan tidur setelah shalat Shubuh menurut Umar bin Khattab terhitung dapat menyebabkan otak tumpul,  terputusnya pernikahan dan membuat tingkah laku menjadi kasar dan keras.

Demikian terhitung tidur setelah saat Ashar (Aylulah), diambil berasal dari kata illat, yang bermakna penyakit.

Kebiasaan tidur setelah Ashar secara kebugaran dapat mengakibatkan sebagian pengaruh samping, layaknya datangnya penyakit, rentan mengalami stress dan depresi dan juga kurangi kapabilitas hafalan seseorang.  Maka, mayoritas mereka yang hobi tidur setelah Ashar, dikala bangun bakal mulai lelah dan lelah walaupun baru bangun berasal dari tidur, dan pengin tidur lagi.

Terlebih tidur setelah shalat Maghrib, sangat tidak dianjurkan, karena dapat membuat lalai shalat Isya padaawal waktu. Seperti disebutkan di di dalam hadits:

«أنَّ النَّبيّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ الْعِشَاءَ، قَالَ: وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا، وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا»

Artinya: “Bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam puas untuk mengakhirkan saat Isya’, membenci tidur sebelumnya, dan membenci bincang-bincang setelah Isya’.” (HR Bukhari dan Muslim).

17. Dianjurkan tidur siang walaupun sebentar.

Tidur siang (Qaylulah) dipetik berasal dari kata qalil, bermakna sedikit. Yaitu tidur sejenak barang 15-30 menit, sebelum akan atau setelah shalat Dzuhur.

Orang Barat tambah menerapkannya, dan mereka menyebutkannya “power snap”. Yaitu tidur untuk merenggangkan otot dan mengembalikan stamina tubuh.

Qaylulah terhitung dapat dilakukan setelah shalat Tahajjud sebelum akan Subuh, bersama catatan tentu saja Subuhnya jangan sampai terlewatkan pada awal waktu.

Ikhtitam (Penutup)

Demikianlah, bersama mengamalkan sunnah-sunnah Nabi di dalam kasus tidur, perlihatkan kecintaan kami kepaa Nabi. Itulah pola tidur paling baik yang berdampak pada pahala, keberkahan, dan kebugaran . ini bukan soal repot, tetapinya begitulah langkah Nabi tidur. Begitu pula langkah kami tidur sebagai umat Nabi yang cinta kepada Nabi, dan mendambakan menghidupkan sunnah-sunnah Nabi.